Ke Situ Lengkong Pasal 88 Mengasah Ilmu Agama dan Pengetahuan Sejarah

Kultur1519 Dilihat

KELOMPOK pengajian Paguyuban Salapan (Pasal) 88 menambah wawasan keilmuan yang bersumber dari sejarah dan agama, akhir pekan kemarin. Komunitas alumni asal SMA 9 Bandung angkatan tahun 1988 ini mengungkap berbagai fakta tentang awal mula persebaran agama Islam di Nusantara.

Ke Panjalu tujuan pengajian.  Berbagai cerita tentang Panjalu, dari khasanah perkembangan Islam pada era lampau, tepatnya ketika pemerintahan masih berada dalam kekuasaan kerajaan, diterangkan Kepala Desa Panjalu, Yuyus Surya Adinegara.

Untuk memastikannya, seluruh anggota Pasal diajak berlayar dari dermaga menuju ke pulau yang terdapat di tengah Situ Lengkong seluas 67,2 hektare. Menggunakan perahu yang disediakan, berkeliling mengitari danau yang semula berupa legok atau lembah yang mengelilingi bukit -dalam bahasa Sunda disebut pasir- dan kala itu bernama Pasirjambu.

Tujuan menuju ke Nusalarang atau Nusa Gede. Di pulau ini sejarah masa lampau tercium kuat. Saat menjejakan kaki di Nusalarang, sebuah patung harimau putih menyambut dengan tatapan dingin. Meski suasana ramai hilir mudik para peziarah yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dai luar negeri, namun aura mistis tetap terasakan.

Berjalan agak ke tengah tiba di sebuah situs makam keramat Eyang Haryang Kantjana bin Eyang Borosngora bin Eyang Tjakradewa. Sementara Prabu Sanghyang Borosngora adalah Raja Panjalu pertama yang belajar ke Mekah dan Madinah dan memeluk agama Islam.

Sanghyang Borosngora dikenal sebagai Raja Panjalu sekaligus penyebar agama Islam yang kemudian pupuler dengan nama Sayid Ali bin Muhammad bin Umar. Keislaman Sanghyang Borosngora diperoleh sepulang belajar dari tanah suci Mekah.

Untuk melindungi pulau di tengah situ, Sanghyang Borosngora tidak memperkenankan dan mengutak-atik keasrian alam Nusalarang dan Situ Lengkong seluas 67,2 hektare yang berada pada ketinggian 700 mdpl.

Betapa berartinya Nusalarang sebab ke pulau itu Prabu Sanghyang Borosngora memindahkan pusat kerajaan Panjalu dari pusat lama yang dibangun leluhurnya di Dayeuh Luhur, Karantenan, di pucuk Gunung Sawal, Kabupaten Ciamis.

oplus_0

Setelah memastikan catatan sejarah Panjalu, nilai keislaman anggota Pasal 88 bertambah dengan siraman rohani sebagai acara pokok kunjungan ke Panjalu. Menurut Ketua Panitia Acara, Abu Andi, pengajian merupakan acara pokok.

“Tapi Alhamdulillah, pengetahuan sejarah bertambah wawasan keagamaan juga meningkat,” tutupnya. (*)