
Oleh: Erdiansyah, Mahasiswa Program Studi Rekayasa Industri Universitas Islam Indonesia.
HAMPIR seluruh sistem ekonomi yang meliputi perdagangan, produksi, dan jasa telah menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pemenuhan tujuannya untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Untuk menjalankan sistem TIK yang baik memerlukan ketersediaan energi yang besar dan handal. Akan tetapi apakah pernah dibayangkan bilamana suatu saat semua perangkat TIK itu tidak berfungsi karena tidak ada energi? Dari beberapa literatur, energi yang bersumber dari fosil akan habis pada beberapa dekade mendatang sehingga perlu solusi untuk melepas ketergantungan dari energi fosil.
Manusia sebagai pengguna harus dapat mengintegrasikan kebutuhan energi dan teknologi informasi, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup dan untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat dilakukan pendekatan menggunakan konsep konservasi energi dan konversi energi. Di mana kondisi global yang sedang mengalami perubahan iklim perlu kepedulian besar untuk menekan dan mengurangi efek rumah kaca dengan cara menekan penggunaan energi. Konsekuensi untuk menutupi kekurangan energi adalah dengan menggiatkan penggunaan energi baru terbarukan dan melakukan improvisasi dalam efisiensi energi. Hal ini juga selaras dengan program pemerintah yang menargetkan pada tahun 2025 bauran energi nasional mencapai 23%
Energi-ergonomi-teknologi informasi dalam tulisan ini akan difokuskan pada gedung bertingkat yang membutuhkan energi sangat tinggi. Sektor bangunan gedung secara global memberikan implikasi yang signifikan pada konsumsi energi dan greenhouse gas emissions (efek rumah kaca), di mana biaya operasional bangunan gedung memasok 30% dari total konsumsi energi dunia. Antara 67%-76% dari total konsumsi dan 75% efek rumah kaca dihasilkan dari lingkungan kota.
Pada bangunan gedung, energi digunakan untuk beberapa akitivitas seperti pemanasan dan pendinginan ruang, air panas, pencahayaan, dan operasional lain. Tingginya konsumsi penggunaan energi baik dari awal pembangunan dan operasional mengakibatkan dampak baik ke lingkungan, kesehatan, kenyamanan pengguna.
Dalam operasional gedung bertingkat, aktivitas dilakukan untuk memastikan kelancaran, kenyamanan, efisiensi, dan keamanan bangunan selama penggunaannya. Aktivitas tersebut melibatkan berbagai sistem, manajemen, dan prosedur yang dirancang untuk mengelola aspek-aspek fisik, teknis, dan administrasi dari gedung tersebut. Dalam konteks gedung bertingkat, operasional tidak hanya mencakup pemeliharaan, tetapi juga pengelolaan fasilitas dan layanan untuk memenuhi kebutuhan penghuni dan pengguna gedung.
Dalam kaitan dengan energi, TIK dan manusia ada beberapa aspek yang menjadi perhatian yaitu:
- Manajemen Energi yang terdiri dari pengelolaan energi dan sistem otomatisasi Bangunan. Fokus dari efisiensi energi dan sistem kendali energi mengoptimalkan penggunaan energi dan kenyamanan penghuni.
- Pengelolaan Sumber Daya Alam dan lingkungan yang terdiri dari pengelolaan air dan limbah di mana difokuskan pada pengelolaan air bersih, pengolahan limbah, serta sistem daur ulang untuk menjaga keberlanjutan gedung dan mengurangi dampak lingkungan.
Implementasi energi baru terbarukan (EBT) dalam bauaran energi pada Gedung bertingkat menjadi hal yang mutlak dilakukan untuk mendukung program pemerintah dan dunia di mana dalam operasionalnya membutuhkan dukungan teknologi informasi untuk proses kendali dan memudahkan perawatan. Sehingga pada akhirnya tingkat kenyamanan manusia yang tinggal dalam gedung menjadi lebih baik dan dapat meningkatkan produktivitas.
EBT yang banyak diimplementasikan pada gedung bertingkat adalah energi matahari. Energi matahari dipertimbangkan menjadi green and clear energy (energi ramah lingkungan dan berkelanjutan) karena hampir tidak memiliki dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan dibandingkan dengan energi fosil.
Panel surya rata-rata memiliki efiseinsi mendekati 40% sehingga menjadikannya salah satu komponen energi yang menjanjikan. Panel surya berfungsi untuk menangkap radiasi matahari yang kemudian menghasilkan energi listrik memiliki kelompok yang dibagi berdasarkan jenis material dan tier. Penentuan besar kapasitas yang terpasang sangat bergantung dari lokasi dan luas lahan yang tersedia. Pada gedung bertingkat panel surya biasa dipasang pada rooftop agar dapat diatur sudut kemiringan berdasarkan lintasan matahari.
Lahan yang terbatas pada gedung bertingkat menjadi tantangan bagi pengelola dalam menghasilkan energi berbasis EBT. Selain optimalisasi ruang dan pemilihan jenis panel surya pengelola harus mempersiapkan perawatan berkala untuk menjamin temperatur kerja panel surya agar senantiasa terjaga. Konstruksi dan struktur panel surya juga menjadi bahan pertimbangan agar user dapat mudah dalam melakukan perawatan seperti pembersihan dan pengecekan instalasi. Bahkan interface yang berbasis HMI (Human Machine Interaction) mulai diterapkan untuk memudahkan pengelola untuk mengatur beban listrik yang akan digunakan untuk area gedung bertingkat.
Kesimpulan dari tulisan ini bahwa gedung bertingkat mempunyai kebutuhan energi yang besar, di mana sumber energi harus menggunakan energi ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dalam operasionalnya, harus didukung teknologi informasi sehingga dapat meningkatkan kenyamanan pengguna yang pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas dan efisien kerja manusia. (*)

